Info Sekolah
Rabu, 08 Des 2021
  • Selamat Datang di Website Terintegrasi SMA Negeri 1 Singosari - Website Resmi SMA Negeri 1 Singosari

Implementasi HOTS melalui Strategi Know, Want, Learning (K-W-L) dalam Pembelajaran PPKn

Oleh: Istinah Sofariyah, S.Pd

  1. Konsep Strategi dan Kontekstualitas Topik
    a. Konsep Strategi Know, Want, Learning (K-W-L)
    Strategi Know, Want, Learning (K-W-L) merupakan salah satu strategi pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk meningkatkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) sehingga peserta didik dapat berpikir kritis dan kreatif dalam mempelajari topik dari suatu mata pelajaran. Strategi K-W-L menunut siswa untuk aktif dalam mengembangkan pemahaman, menganalisa materi pelajaran dan menyimpulkan apa yang mereka pelajari. Strategi KWL membantu guru untuk menghidupkan kembali pemahaman dan minat siswa pada suatu topik yang akan dipelajari.
    Strategi K-W-L juga merupakan strategi membaca instruksional yang digunakan untuk membimbing siswa melalui sebuah teks. Siswa mulai dengan melakukan brainstorming tentang apa yang mereka ketahui tentang suatu topik. Informasi ini dicatat dalam kolom K pada bagan K-W-L. Siswa kemudian membuat daftar pertanyaan tentang apa yang ingin mereka ketahui tentang topik tersebut. Pertanyaan-pertanyaan ini diidentifikasi dalam kolom W. Selama atau setelah membaca, siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kolom L. Informasi baru yang telah mereka pelajari ini dicatat di kolom L pada bagan K-W-L .
    Strategi K-W-L memuat tiga langkah yang berisi beberapa kegiatan yang berguna untuk menuntun siswa dalam memahami sebuah topik pembelajaran. Tiga langkah dalam KWL ini berguna meningkatkan kemampuan membaca, memahami dan menganalisa topik yang sedang dipelajari. Strategi ini membantu siswa memikirkan informasi baru yang diterimanya, tapi juga mengeksplorasi apa yang telah diketahuinya. Bahkan strategi ini juga bisa memperkuat kemampuan siswa mengembangkan pertanyaan tentang berbagai topik serta bisa menilai hasil belajar mereka sendiri. Strategi K-W-L melibatkan tiga langkah dasar yaitu tentang apa yang telah mereka ketahui, menentukan apa yang ingin mereka ketahui, dan mengingat kembali apa yang mereka pelajari dari membaca. Melaui strategi K-W-L menuntut peran aktif siswa sebelum, saat, dan sesudah membaca materi pelajaran.
    Selama proses pembelajaran siswa mengenali apa yang harus mereka pelajari dengan menjawab pertanyaan mereka sendiri. Jawaban-jawaban ini dapat dituliskan segera setelah mereka mempelajarinya. Siswa dapat melacak pembelajaran mereka dengan melihat bahwa mereka memiliki pertanyaan yang belum dijawab untuk ditindaklanjuti. Siswa juga dapat menambahkan pertanyaan baru yang muncul selama pembelajaran, saat mereka memperdalam pemahaman mereka tentang konsep baru.
    Di akhir pelajaran siswa menggunakan tabel K-W-L untuk merangkum pembelajaran mereka dengan menggunakan ide-ide sederhana dan mudah diungkapkan. Siswa dapat membandingkan hasil pembelajaran kelompok mereka dengan teman sekelasnya dan menambahkan ide yang mereka tinggalkan untuk membuat daftar yang lebih komprehensif.

b. Kontekstualitas Stategi K-W-L dalam mata pelajaran PPKn
Strategi K-W-L memiliki sejumlah kegunaan yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Di awal pelajaran, bagan K-W-L digunakan guru untuk mengaktifkan pengetahuan latar belakang siswa dan siswa berpikir tentang apa yang sudah mereka ketahui tentang topik untuk membuat mereka siap untuk menghubungkan pengetahuan dengan pembelajaran baru. Tetapkan tujuan untuk pelajaran pada masing-masing bab atau kompetensi dasar, biarkan siswa mengetahui apa yang harus diantisipasi dari pempelajaran tersebut. Libatkan siswa dalam mengajukan pertanyaan tentang konten baru untuk memunculkan rasa ingin tahu mereka, serta memberi kesempatan untuk berbagi pertanyaan satu sama lain.
Langkah-langkah implementasi KWL dalam proses pembelajaran:
1) Pilih sebuah teks. Strategi ini lebih baik dengan teks ekspositori.
2) Buat bagan K-W-L. Guru harus membuat grafik di papan tulis atau transparansi overhead atau melalui Lembar Kerja Siswa. Selain itu, para siswa harus memiliki bagan sendiri untuk mencatat informasi. Di bawah ini adalah contoh bagan K-W-L.

What I Know
K What I Want to Know
W What I Learned
L

3) Mintalah siswa untuk bertukar pikiran kata-kata, istilah, atau frasa yang mereka asosiasikan dengan suatu topik. Guru dan siswa mencatat asosiasi ini di kolom K pada bagan mereka. Ini dilakukan hingga siswa kehabisan ide.
Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada pasing-masing tahapan di bawah ini.

a) What I Know (K)
Siapkan pertanyaan untuk membantu siswa melakukan brainstorming ide-ide mereka. Terkadang siswa membutuhkan motivasi dari guru daripada sekedar guru memerintahkan “Ceritakan semua yang Anda ketahui tentang _,” untuk memulainya. Imbaulah siswa untuk menjelaskan analisa mereka. Ini sangat penting bagi peserta didik untuk mengetahui pemahaman mereka. Guru memberikan pertanyaan, “Apa yang membuatmu berpikir tentang itu?”
Dari sini peserta didik menyampaikan ide, pendapat sumbang saran pengetahuan dan pengalaman sebelumnya atau yang sedang dipelajari. Dalam tahapan ini siswa secara aktif menggali ide dan gagasan yang disajikan dalam bentuk teks, dengan memunculkan apa yang mereka ketahui setelah membaca topik atau materi yang sedang dipelajari. Ketika guru memulai topik baru atau mempersiapkan siswa untuk mempelajari materi baru, terlebih dahulu guru menjelaskan pentingnya mempelajari materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Setelah penjelasan singkat, guru dan siswa mengidentifikasi apa yang mereka ketahui tentang topik tersebut, siswa menulis ide-ide brainstorming siswa di lembar kerja yang sudah disediakan.

b) What I Want to know (W)
Ajukan pertanyaan alternatif untuk menghasilkan ide untuk kolom W. Jika, sebagai tanggapan terhadap “Apa yang ingin Anda pelajari tentang topik ini?”, “Menurut Anda, apa yang akan Anda pelajari tentang topik ini dari teks yang akan Anda baca?” Pilih ide dari kolom K dan tanyakan, “Apa yang ingin Anda pelajari lebih lanjut tentang ide ini?”. Guru juga bisa menambahkan dengan pertanyaan untuk ditambahkan ke kolom W. Hal ini dilakukan jika guru menginginkan siswa untuk fokus pada ide-ide dalam teks di mana pertanyaan-pertanyaan siswa tidak cenderung untuk memfokuskan pada materi yang sedang dipelajari.
Pastikan pertanyaan gutu tidak menambahkan terlalu banyak pertanyaan. Mayoritas pertanyaan di kolom W harus dibuat oleh siswa.
Mintalah siswa membaca teks dan mengisi kolom L dari bagan mereka. Siswa harus mencari jawaban atas pertanyaan di kolom W. Siswa dapat mengisi kolom L mereka selama atau setelah membaca.

c) What I Learned (L)
Selain menjawab pertanyaan kolom W, dorong siswa untuk menulis di kolom L apa pun yang menurut mereka sangat menarik. Untuk membedakan antara jawaban atas pertanyaan mereka dan ide-ide yang menurut mereka menarik, mintalah siswa memberi kode informasi dalam kolom L. Misalnya, mereka dapat menulis nomor soal yang dijawab di sebelah informasi yang dijawab pertanyaannya dari kolom K. Dan mereka dapat menempatkan bintang di sebelah ide-ide yang menurut mereka menarik.
Mintalah siswa untuk mengeksplorasi dari berbagai sumber untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang tidak terjawab dalam teks. (Jika tidak semua pertanyaan siswa di kolom W akan dijawab melalui teks yang telah dibaca). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut untuk menentukan, memperluas dan menemukan seperangkat tujuan pembelajaran. Sesudah itu siswa mencatat informasi yang mereka pelajari, mengidentifikasikan dan mengalisa pertanyaan yang sudah terjawab atau belum terjawab sekaligus memberikan kesimpulan tentang topik yang dipelajari. Melalui cara ini guru memberikan penekanan pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai peserta didik serta untuk memahami sejauh mana materi yang telah dikuasai oleh peserta didik melalui penyajian hasil diskusi kelompok.

  1. Tahapan Penerapan Strategi hingga assesment
    Menyusun rancangan pembelajaran dengan penerapan strategi K-W-L dengan kurikulum 2013, mengacu pada kompetensi inti dan kompetensi dasar pada Permendikbud No. 37 Tahun 2018 tentang “Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah”. Permendikbud tersebut menjadi acuan agar pembelajaran yang didesain oleh guru dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum.
    Analisis kompetensi inti dan kompetensi dasar juga sangat diperlukan sebagai dasar pengembangan silabus dan dijadikan acuan dalam menyusun rancangan pembelajaran, maka untuk membuat rancangan pembelajaran yang berbasis pada pembelajaran HOts dapat melihat tabel berikut ini :