SEKILAS INFO
: - Rabu, 30-09-2020
  • 2 bulan yang lalu / Mohon Maaf Website ini sedang dalam perbaikan untuk menjadi lebih interaktif dan menarik..
  • 2 bulan yang lalu / Smanesi : Smart Unggul Berpretasi Luar Biasa – ManJadda Wa Jada – I Can Do
Pengembangan Kurikulum 2013 Berbasis Kritis Dan Kreatif

Jumad

Guru Fisika SMA Negeri 1 Singosari

startindomediactk@gmail.com

Abstrak

Realita Pengembangan kurikulum tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak pihak, seperti politikus, pengusaha, orangtua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Strategi pembelajaran pada pendidikan sekolah harus diberi fondasi terlebih dahulu dengan internalisasi sosiologi kritis, inovasi, kreativitas, dan mentalitas. Selain itu, juga mengubah strategi pembelajaran yang selama ini berdasarkan pada konsep reproductive view of learning menjadi constructive view of learning. Stagnasi kurikulum pendidikan sekolah diawali dari replikasi dan adopsi kurikulum yang tidak sesuai karakter siswa. Adanya pemasungan kreativitas pada kurikulum tersebut mengakibatkan terhambatnya daya inovasi, inspirasi, dan imajinasi sekaligus menumpulkan intuisi dalam pengembangan pendidikan sekolah. Nilai mentalitas, seperti kejujuran, keadilan, kasih, dan sayang masih belum nampak di dalam kurikulum pendidikan sekolah. Model pengembangan kurikulum yang berbasis pada sosiologi kritis, kreativitas, dan mentalitas harus didukung dengan strategi pembelajaran yang inovatif atau berbeda dengan strategi-strategi sebelumnya. Kebebasan berkreasi dalam pengembangan kurikulum pendidikan menjadikan kunci lahirnya kreator yang mampu memenuhi semua  kebutuhan masyarakat dan tuntunan zaman.

Kata kunci : Pengembangan kurikulum, filosofis, kritis, kreatif

PENDAHULUAN

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, di dalamnya mencakup perencanaan, penerapan, dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan

digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.

Pengembangan kurikulum tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti politikus, pengusaha, orangtua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan. Prinsip- prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum.

Kurikulum yang ada pada pendidikan sekolah menurut Hamzah mengalami stagnasi, statis, dan berorientasi pada materialitas. Stagnasi terlihat dari adopsi dan replikasi kurikulum pendidikan sekolah. Nuansa hegemoni pada dunia pendidikan sekolah terasa mengental, bahkan menuju ke arah statusquo kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah telah mengalami perubahan, pengurangan, dan penambahan muatan materi, akan tetapi sekolah tidak melakukan perubahan kurikulum atau mengalami stagnasi kurikulum yang berkelanjutan.

Lebih lanjut Hamzah berpendapat kenyamanan karena adanya hegemoni tersebut membuat pola pikir dan arah nalar para pendidik dan peserta didik terpasung dalam pendidikan yang menjerumuskan bukannya pendidikan yang membebaskan. Untuk itu, internalisasi sikap, perilaku, dan tindakan kritis pada kurikulum pendidikan sekolah perlu dilakukan. Hal ini ditunjukkan dengan melakukan kajian kritis pada setiap adopsi dan replikasi kurikulum yang digunakan oleh sekolah.

Kestatisan pada kurikulum pendidikan sekolah terlihat dari tidak adanya kreativitas dalam kurikulum tersebut. Kalau terdapat kreativitas, itu pun mengarah pada materialitas yang selama ini sudah didoktrinkan oleh beberapa pendidik kepada peserta didik. Ketiadaan kreativitas ini terbelenggu dengan adanya pembatasan kurikulum yang semata-mata mengacu pada hal-hal yang

bernuansa ekonomi dan hitungan saja. Pengembangan intuisi, imajinasi, dan inspirasi yang mengarah pada inovasi tidak atau kurang diinternalisasi pada kurikulum. Begitu pula keterkaitan pendidikan sekolah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya kurang begitu diperhatikan.

Adanya pemasungan kreativitas pada kurikulum tersebut mengakibatkan terhambatnya daya inovasi, inspirasi, dan imajinasi sekaligus menumpulkan intuisi dalam pengembangan pendidikan sekolah. Keterjebakan kurikulum pendidikan sekolah pada stagnasi dan statis menurut Hamzah menjadi dilematis dengan mengarahkannya kepada materialitas. Nilai mentalitas, seperti kejujuran, keadilan, kasih, dan sayang masih belum nampak di dalam kurikulum pendidikan sekolah.

Hal ini dipertegas oleh Topatimasang dan Fakih yang menyatakan kurikulum pendidikan sekolah cenderung menafikan nilai mentalitas, tetapi mengutamakan nilai materialitas. Keseimbangan muatan kurikulum pada nilai materialitas dan mentalitas berjalan berat sebelah. Strategi balanced scorecard yang diajarkan pada intinya dimuarakan pada kepentingan materialitas bukan pada keseimbangan antara materialitas dan mentalitas. Hal ini dapat mengakibatkan keluaran dari pendidikan sekolah adalah insan-insan yang materilitas dan distigma.

Oleh karena itu strategi pembelajaran pada pendidikan sekolah harus diberi fondasi terlebih dahulu dengan internalisasi sosiologi kritis, inovasi, kreativitas, dan mentalitas Hal ini tidak berhenti pada fondasi saja, tetapi juga diupayakan merasuki kurikulum yang ada pendidikan sekolah. Selain itu, juga mengubah strategi pembelajaran yang selama ini berdasarkan pada konsep reproductive view of learning menjadi constructive view of learning. Konsep ini pada dasarnya membangun tanpa merusak fondasi yang sudah baik pada proses belajar mengajar selama ini.

Konsep reproductive view of learning yang selama ini dihasilkan hanya menghasilkan keluaran yang bersifat mengikut saja tanpa mampu bersikap kritis, kreatif, dan mempunyai nilai-nilai mental. Ini berbeda dengan konsep constructive view of learning yang berpegang pada nilai-nilai kritis, kreatif, dan nuansa mentalitas. Dalam konsep ini agar dihasilkan mutu pendidikan yang berkualitas, maka anak didik diinternalisasi dengan sikap kritis. Salah satu diantaranya adalah dengan paradigma dekonstruksi, keluar dari kotak awal pengetahuan yang membelenggu, serta dijiwai nilai-nilai mentalitas berupa kejujuran, keadilan, kasih, dan sayang.

PEMBAHASAN

Pengembangan Kurikulum Berbasis Kritis dan Kreatif

            Dalam mengembangkan kurikulum seyogyanya harus memiliki sandaran yang kuat dengan suara hati nurani, bukan hanya mengandalkan rasio semata. Hal disebabkan karena pada umumnya, ketika kita melandaskan pada rasio yang digunakan dalam berpikir dan menganalisis sebetulnya tidak netral dan historis atau tidak terkait dengan masa lalu. Karenanya bebaskan dari rasio, dan sandarkan setiap analisis dalam mengembangka kurikulum pada suara hati nurani. Hal ini dikarenakan suara hati nurani adalah suara kejujuran yang paling terdalam. Apa yang tidak sesuai dengan hati nurani akan mengalami gejolak atau penolakan di diri. Dengan adanya hal itu, maka dalam pembuatan kurikulum serta pelaksanaan dalam proses belajar mengajar tidak semata-mata bertumpu pada rasionalitas semata, tetapi juga pada perenungan ide-ide dengan imajinasi dan inspirasi untuk menciptakan sesuatu yang inovasi dengan berpegang pada kata hati nurani.

Ilmu pengetahuan, sejatinya adalah suatu hal yang sarat nilai dan sarat tujuan yang mulia. Ilmu pengetahuan adalah perjuangan terhadap kebohongan, pembebasan dari belenggu kebodohan dan ketidaktahuan, keangkuhan dan keacuhan yang semuanya merupakan kejahatan terhadap hati nurani manusia sendiri. Begitu pula, pengembangan kurikulum menurut Hamzah juga penuh dengan daya kritis, muatan kreatif, dan nuansa mentalitas. Banyaknya ketidakjujuran dalam melakukan pengembangan, keterpasungan dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan pesanan, sengaja membiarkan kesalahan pada suatu sistem, serta pola manajemen yang bertentangan dengan hati nurani bukan salah pada ilmu pendidikan.

Kesalahan awal terletak pada kurikulum dan strategi pembelajaran yang selama digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan pada pendidikan. Kurikulum pendidikan sekolah merupakan pertautan pengetahuan dan kepentingan berbagai pihak terkait dengan proses pembelajaran. Adanya kepentingan menunjukkan adanya politik, dalam hal ini politik adalah sistem irasional dengan variabel-variabel yang kompleks dan sulit dimengerti oleh siswa terkadang oleh para guru sehingga sangat sulit ditebak akan ke mana arah pendidikan sekolah yang ada saat ini. Untuk itu menurut Sindhunata diperlukan kritik menuju pembebasan para guru dan siswa dari irasionalitas menjadi rasional serta dari ketidaksadaran menjadi kesadaran.

Hal ini dikarenakan institusi pendidikan beserta para civitas akademik terjebak dan terbuai pada rasionalitas serta ketidaksadaran yang berkelanjutan. Hal ini terlihat dari pengetahuan yang didapat oleh siswa lebih banyak dari proses pembelajaran yang lebih banyak satu arah bukan partisipasi yang bersifat dialektis yang diutamakan. Para guru masih menganggap dirinya adalah dewa yang mengetahui segala persoalan dan permasalahan dalam proses pembelajaran. Hal ini yang memadamkan dan menumpulkan daya kritis siswa sehingga proses penalaran dan pengasahan dalam perenungan menjadi terabaikan. Padahal pengetahuan yang diperoleh tidak semata-mata dari proses pembelajaran saja, tetapi juga dari perenungan ide-ide, pengalaman, dan pengamatan indra.

Bagi para guru yang kurang atau tidak melakukan perenungan ide-ide, pengalaman, dan pengamatan indra, maka strategi pembelajarannya hanya bersifat satu arah dan pasif. Proses penajaman dari materi yang ada tidak tergali secara optimal. Materi yang diajarkan dianggap sebagai sesuatu yang given (pemberian), untuk itu tidak perlu sikap kritis terhadap materi tersebut. Akibatnya, kurikulum yang dibuat dan dijadikan kontrak belajar antara para guru dan siswa juga dianggap sebagai sesuatu yang given (pemberian). Tumpulnya perenungan ide-ide akan mematikan daya imajinasi, inspirasi, dan inovasi terhadap sesuatu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Apalagi proses pembelajaran selama ini juga lebih banyak menggunakan rasio sebagai alat analisis.Proses tersebut akan memunculkan replikator-replikator baru bukan kreator-kreator yang handal dan mumpuni.

Kritis berkaitan dengan memiliki ketajaman dalam menganalisis suatu hal atau persoalan dan pengambilan keputusan. Semakin tajam seseorang menganalisis suatu permasalahan maka akan semakin tajam pula keputusan yang dibuat oleh orang tersebut. Ennis dalam Hassoubah menjelaskan bahwa berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan.

Hal senada dikemukakan oleh Johnson dan Lamb yang menyatakan bahwa critical thinking involveslogical thinking and reasoning including skills such as comparison, classification, sequencing, cause/effect, patterning, webbing, analogies, deductive, and inductive reasoning, forecasting, planning, hypothesizing, and critiquing.  Berpikir kritis meliputi berpikir logis dan beralasan berkaitan dengan keterampilan seperti membandingkan, menggolongkan, mengurutkan, sebab akibat, menyusun, mengaitkan, analogi, proses berpikir deduktif, dan penyebab induktif, ramalan, rencana, membuat hipotesis, dan tinjauan kritis.

Pembelajaran yang dilakukan dengan model diskusi kelompok kecil juga dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Siswa yang tergabung dalam kelompok kecil akan mendapat kesempatan mengklarifikasi pemahamannya dan mengevaluasi pemahaman siswa lain, mengobservasi strategi berpikir dari orang lain untuk dijadikan panutan, membantu siswa lain yang kurang untuk membangun pemahaman, meningkatkan motivasi, serta membentuk sikap yang diperlukan seperti menerima kritik dan menyampaikan kritik dengan cara yang santun.

Kurikulum pendidikan sekolah terjebak pada kestatisan yang berkelanjutan. Kestatisan tersebut tidak dilandasi dengan pikiran, sikap, dan tindakan yang positif. Untuk keluar dari pikiran, sikap, dan tindakan yang negatif menuju positif seakan-akan terasa sulit. Hal ini dikarenakan ketidakpercayaan terhadap orang dan sistem yang ada. Hal ini juga dikarenakan risiko yang ada terkait dengan perubahan pikiran, sikap, dan tindakan yang dialami para guru dan keluaran dari institusi sekolah. Kreativitas adalah proses perubahan yang lebih baik dengan memberi nilai tambah pada sesuatu dengan kemungkinan adanya risiko. Tanpa adanya nilai tambah tersebut sesuatu akan berjalan statis.

Kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan mencipta, sedangkan kreativitas menurut Campbell dalam ADVY adalah suatu ide atau pemikiran manusia yang bersifat inovatif, berdaya guna (useful), dan dapat dimengerti (understandable). Aplikasi dari konsep tersebut adalah seorang siswa harus banyak bertanya, banyak belajar, dan berdedikasi tinggi untuk memperoleh kemampuan berpikir kreatif yang tinggi.

Melakukan kreativitas dalam pendidikan sekolah terkadang berbenturan dengan pelanggaran aturan yang ada. Aturan yang selama ini dibuat dan disimpan dalam kotak tidak boleh dilanggar atau dilakukan perubahan. Untuk itu, perlu mendesakralisasi aturan tersebut dengan melakukan perubahan. Untuk merubah aturan tersebut menjadi lebih baik, maka harus berpegang pada filosofi aturan tersebut serta berpikir di luar kotak (out of the box).

Proses berpikir di luar kotak yang belum banyak diasah oleh para guru dan siswa. Bahkan tidak hanya berpikir di luar kotak, tetapi juga merangsang untuk menciptakan kotak baru dengan berpijak pada proses berpikir di luar kotak. Jika hanya berpikir di luar kotak yang selalu digunakan dan dihandalkan, maka akan terjadi proses konstruksi yang destruksi. Proses kreativitas dalam pendidikan sekolah juga dapat dibuat dengan berpijak pada asumsi yang ada maupun yang diciptakan. Pendidikan bersandar pada asumsi yang ada, dengan menghilangkan, mengurangi, atau menambah asumsi-asumsi yang ada akan tumbuh kreativitas yang berkelanjutan.

Kebuntuan kreativitas terkadang terjebak pada penggunaan  logika, karena logika berpola secara sistematis, teratur, dan mekanis. Padahal kreativitas identik dengan pola pemikiran yang lateral, acak, dan dinamis. Hambatan penumbuhan kreativitas pada dunia pendidikan dikarenakan dominannya penggunaan logika dibandingkan dengan intuisi dan imajinasi. Tanpa adanya pelatihan dan penumbuhan intuisi dan imajinasi dalam dunia pendidikan, maka kreativitas akan berjalan di tempat. Kreativitas juga dapat ditumbuhkan dengan melakukan kaitan sesuatu dengan sesuatu hal yang lain yang mampu membuat nilai tambah dan berdaya guna.

Proses kreativitas dapat dilakukan dengan kaitan yang tak berkaitan. Dengan kata lain, melampaui dari sesuatu yang dijadikan pijakan untuk mengaitkan dengan sesuatu yang lain. Dalam proses mengaitkan tersebut, kreativitas akan semakin tumbuh dengan kemampuan untuk memilah dan memilih bagian dari sesuatu yang berdaya guna dan bernilai tambah. Pada pendidikan sekolah proses untuk menjadi kreativitas kurang diperkenalkan/diajarkan, akibatnya keluaran dari institusi pendidikan sekolah adalah insan-insan yang statis tanpa mampu melakukan perubahan yang berarti dengan memberi nilai tambah, daya guna, dan daya hasil bagi masyarakat.

Kemampuan berpikir kreatif dapat memudahkan siswa dalam memperdalam ilmu pengetahuan yang dimiliki dan mempertajam kemampuan siswa untuk menganalisis permasalahan yang timbul dalam usahanya mempelajari materi tertentu, sehingga siswa dapat mempelajari materi yang disajikan di sekolah dengan baik, dan mampu menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapatkannya. Kemampuan berpikir kreatif dapat diketahui oleh orang lain di sekitar. Guru hendaknya mengetahui kemampuan berpikir kreatif dari siswanya sehingga dapat mengenali karakteristik siswanya dan pada akhirnya dapat menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa.

Setiap sistem terkandung nilai-nilai tersendiri. Pendidikan sekolah merupakan sistem maupun subsistem pendidikan tergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Dalam hal ini, pendidikan sekolah sebagai suatu sistem, semua upaya boleh dilakukan agar sistem dapat berjalan seoptimal mungkin, yang ditekankan adalah bahwa ada tujuan utama proses pembelajaran yang paling mulia dengan nilai yang luhur pula yang merupakan nilai universal yaitu nilai kemanusiaan. Nilai yang menjadikan para pendidik dan anak didik mempunyai ketangguhan pribadi, ketangguhan sosial, dan ketangguhan antar manusia dengan dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran, keadilan, kasih, dan sayang.

Nilai yang menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual dalam diri para pendidik dan anak didik. Nilai tersebut dikerahkan sebagai keseluruhan usaha dalam sistem pendidikan sekolah.

Nilai sempit ini terlihat dari ketangguhan pribadi yang mengungguli ketangguhan sosial dan ketangguhan antar manusia serta kecerdasan intelektual yang mendominasi kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Sistem tersebut akhirnya hidup dan sadar bahwa ia mempunyai keinginan sendiri sehingga mengeksploitasi para guru dan siswa yang merupakan pembuatnya untuk mencapai tujuan-tujuan egoisnya sendiri, yaitu materialitas. Ketika para guru dan siswa mulai sadar akan hal ini dan mencoba menggantikan sistem tersebut oleh sistem yang baru yang menawarkan pada pendidikan yang membebaskan, maka banyak mengalami permasalahan, baik dari sistem yang sudah ada maupun para pemakai dan pembuat sistem tersebut.

Permasalahan terbesar khususnya dari pemakai dan pembuat sistem tersebut, yaitu ketakutan akan berkurangnya atau hilangnya nilai-nilai yang bersifat materialitas. Bahaya terbesar suatu sistem adalah dogmatisasi nilai-nilai sempit keyakinan yang seharusnya bersifat sementara dan elastis bahkan plastis terhadap perkembangan jaman.

Kurikulum pendidikan sekolah yang merupakan turunan dari teori serta nilai-nilai dari suatu ilmu pengetahuan. Dalam perjalanannya, pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum telah tumbuh begitu kuatnya sehingga hegemoni telah mencakup segala sisi dari para guru, siswa, dan sekolah sebagai institusi pendidikan. Bahayanya terletak dari dogmatisasi nilai-nilai pendidikan yang diajarkan pada sekolah. Kurikulum pendidikan sekolah telah terstruktur sedemikian rupa sehingga telah mempunyai arogansi dan egoistis untuk menyatakan dirinya sebagai satu-satunya yang berhak dalam menyatakan kebenaran.

Perspektif ini merupakan proses fabrikasi dan mekanisasi pendidikan untuk menghasilkan keluaran pendidikan yang harus sesuai dengan pasar kerja. Para guru dan siswa tidak sadar dibuat seolah-olah sebagai robot yang menjalankan sistem penyelenggaraan pendidikan. Dengan kata lain, para guru dan siswa seakan-akan tidak mempunyai hati, nurani, dan jiwa didiri. Proses pendidikan diarahkan pada pendidikan yang menjerumuskan bukan pendidikan yang membebaskan, seakan-akan pasar kerja mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang mendominasi para guru dan siswa. Untuk itu, perspektif ini harus diubah dengan meletakkan manusia yang mengontrol dan mengendalikan pasar kerja.

Pendidikan yang membebaskan merupakan upaya untuk menempatkan para pendidik dan anak didik membuat pasar kerja yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai ini tercermin dari kejujuran, keadilan, kasih, dan sayang, baik antara para guru dan siswa, antara institusi sekolah dan para civitas akademik, serta antara manusia satu dan manusia satunya. Pengembangan kurikulum yang berbasis pada sosiologi kritis, kreativitas, dan mentalitas harus didukung dengan strategi pembelajaran yang inovatif atau berbeda dengan strategi-strategi yang selama ini dilakukan dalam proses pembelajaran.

Strategi pembelajaran yang bertumpu pada teori harus diimbangi dengan praktik yang ada. Banyak guru pada pendidikan sekolah hanya berpijak pada teori semata, sehingga setelah selesai teori tersebut diajarkan, maka perlahan-lahan pudar materi yang selama ini tertanam di benak siswa. Strategi pembelajaran yang inovatif adalah menciptakan aktivitas agar anak didik dapat terlibat langsung dalam proses pendidikan sekaligus terlibat dalam keseluruhan proses.

Strategi pembelajaran tersebut tidak hanya bersifat ceramah semata saja, tetapi juga dengan adanya simulasi, studi kasus, tanya jawab, curah pendapat, diskusi kelompok, penugasan, demonstrasi, peragaan, dan studi lapangan. Penggunaan media belajar yang bervariasi dan menggunakan hasil teknologi dapat meningkatkan siswa untuk ingin lebih mengetahui. Siswa yang memiliki rasa ingin lebih tahu mempunyai kecenderungan untuk bertanya tentang suatu materi pelajaran yang dipelajarinya.

PENUTUP

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, di dalamnya mencakup perencanaan, penerapan, dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Oleh karena itu strategi pembelajaran pada pendidikan sekolah harus diberi fondasi terlebih dahulu dengan internalisasi sosiologi kritis, inovasi, kreativitas, dan mentalitas. Hal ini tidak berhenti pada fondasi saja, tetapi juga diupayakan merasuki kurikulum yang ada pendidikan sekolah. Selain itu, juga mengubah strategi pembelajaran yang selama ini berdasarkan pada konsep reproductive view of learning menjadi constructive view of learning. Konsep ini pada dasarnya membangun tanpa merusak fondasi yang sudah baik pada proses belajar mengajar selama ini.

Mengembangkan kurikulum yang berbasis kritis dan kreatif harus didukung dengan strategi pembelajaran yang inovatif atau berbeda dengan strategi-strategi yang selama ini dilakukan dalam proses pembelajaran. Pendidikan yang membebaskan merupakan upaya untuk menempatkan para pendidik dan anak didik membuat pasar kerja yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai ini tercermin dari kejujuran, keadilan, kasih, dan sayang, baik antara para guru dan siswa, antara institusi sekolah dan para civitas akademik, serta antara manusia satu dan manusia satunya.

REFERENSI

Agger, B. 2006. Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan, dan Implikasinya.Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Buzan, T., dan Buzan, B. 2003. The Mind Map Book. London: BBC Worldwide Limited.

Dimyati, dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Ferris, R. W. 1990. Renewal in Theological Education: Stragies for Change. New York: Billy Graham Center.

Hamzah, A. 2007. Model Pengembangan Kurikulum dan Strategi Pembelajaran Berbasis Mentalitas. Bangkalan: Universitas Trunojoyo.

Hassoubah, Z. I. 2007. Mengasah Pikiran Kreatif dan Kritis: Disertai Ilustrasi dan Latihan. Bandung: Nuansa.

Joni, T. R. Wawasan Kependidikan Guru. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Munandar, S. C. U. 2002. Kreativitas dan Keberbakatan Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Salim, P, dan Salim, Y. 2002. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern English Press.

Sindhunata. 2004. Dilema Usaha Manusia Rasional. Jakarta: Rajawali Press.

Sukmadinata, N. S. 1997. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Sukmayadi, D. 2004. Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Sumantri, M. 1988. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Topatimasang, R., dan Fakih, M. 2007. Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta: Insist Press.

TINGGALKAN KOMENTAR

Kategori Berita

Informasi online
1
Selamat Datang di Layanan Informasi Online Kami.
Powered by