Berita Terkini

IBUKU PAHLAWANKU

Oleh: Zainal Fanani, S.Pd (Guru SMAN 1 Singosari)

Ditulis sebagai ungkapan rasa cinta kepada Ibunda tercinta (MAHMUDAH Alm) dan untuk para Ibu yang sedang merayakan HARI IBU

Sembilan bulan lebih kita dirahim ibu

Dengan kasih sayangnya untuk kita selalu

Walau terasa sakit, takkan pernah mengeluh

Walau berat terasa tetap berjuang selalu

Duhai ibu tercinta kasihmu tiada tara

Kau pertaruhkan nyawa untuk putra tercinta

Engkau bimbing putramu, dengan samudra cinta

Kau rela menderita demi aku sang putra

Wahai ibu tercinta ampunkanlah anakmu

Yang takkan pernah tau dengan keluh kesahmu

Wahai ibu tercinta terimalah baktiku

Ku ingin mendapatkan surga darimu

Duhai ALLAH yang kuasa kabulkanlah doa hamba

Ampuni dosa hamba, dan orang tua hamba

Lindungi dan sayangi langkah hidup mereka                        

Ku ingin selalu dalam buai kasih sayangnya

Ibu adalah seorang yang sangat istimewa dalam kehidupan Ibu—Mama, Mami, Mak, atau apa pun kata yang digunakan manusia untuk memanggil  siapa yang melahirkannnya—kesemuanya merupakan kata panggilan yang paling mesra dan tulus yang dikenal oleh umat manusia                            Perjuangan seorang ibu sangatlah besar, Ibu mengandung anaknya selama 9 bulan lebih lamanya yang semakin bertambah hitungan bulan semakin bertambah besar dan berat perutnya, ibu selalu membawa  perut besarnya kemanapun ia pergi. Di usia kehamilan muda seorang ibu yang tengah mengandung akan selalu merasa mual dan ingin muntah. Walaupun dalam keadaan seperti itu, ibu tetap melaksanakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Ketika usia kehamilannya mulai tua, ibu mulai mudah merasa kelelahan. Saat ibu ingin mengistirahatkan tubuhnya pun ia kesulitan. Perutnya yang semakin membesar membuatnya tak nyaman. Tidur dengan posisi apapun tidak sulit, gerah, berat dan tidak nyaman.

            Selama lebih dari 9 bulan ia rela mengandung dan membawa anaknya didalam kandungan kemanapun ia pergi. Saat pergi tidur, memasak, mencuci, mandi dan aktivitas lainnya, tanpa pamrih ibu dengan rela dan ikhlas membawa beban berat yang ada didalam perutnya. Saat waktunya mendekati lahirnya sang anak, ibu akan mengalami kesakitan yang semakin bertambah dan bertambah. Saat melahirkan buah hatinya, ibu mempertaruhkan jiwa dan raganya demi sang anak, hanya agar sang anak dapat lahir, menatap dunia dalam keadaan sehat dan sempurna. Bahkan nyawanya pun ia korbankan. Tidak jarang banyak ibu yang gugur pada saat melahirkan. Tak dapat dibayangkan, dan tak dapat diungkapkan dengan kata kata, bagaimana sakitnya seorang ibu ketika melahirkan anaknya.

            Saat sang anak telah lahir, setiap malam ibu selalu begadang. Ia kelelahan, kurang tidur, dan tidak bisa merawat dirinya sama seperti ketika ia belum mempunyai anak. Jangankan untuk berdandan, untuk madi dan makan saja, ibu kerap kali kesulitan karena bayinya yang menangis. Saat anak mulai bisa berjalan, rasa lelah seorang ibu akan semakin bertambah. Buah hatinya berjalan kesana kemari dan membutuhkan penjagaan yang tepat agar tidak terjadi hal hal yang membahayakan si anak. Belum lagi ibu harus memasak dan mengurus kepentingan rumah. Sungguh mulia perjuangan seorang ibu yang sering kali kita lupakan.

Ibuku 7 bulan engkau lahirkan aku….

            Saat aku bayi ibu berusaha sekuat lahir dan bathinnya untuk mempertahankan agar aku tetap bisa melihat dunia dan tumbuh seperti bayi-bayi yang lain. Di kamar yang sangat sederhana  ibu berusaha memberikan asinya padaku walau masih sulit aku meminumnya, ibu dengan kasih sayangnya membersihkan tetesan darah yang masih keluar dari hidungku, teligaku dan mataku, ibu dengan cintanya berusaha memberikan kehangatan bagi tubuhku dengan selimut dan beberapa botol air panas yang berada disisiku karna saat itu masih belum ada incubator kalaupun ada kami belum mampu untuk menyewanya.

Ibu kau besarkan aku dengan kesederhanaan…

            Saat aku diberikan kesempatan oleh ALLAH untuk hidup normal karena usaha dan jerih payah ibu. Saat itu usiaku 4 atau 5 tahun engkau melanjutkan perjuanganmu untuk mendidik aku, saat aku masih kecil kau ajarkan aku hidup sederhana. Ibu ketika aku mau tidur tidak ada tv bu, tidah ada hp, tidak ada musik, yang ada hanya suara ibu yang menceritakan padaku tentang ALLAH, tentang Rosulullah, tentang para sahabat tentang budi pekerti yang baik. Aku masih ingat bahwa kita belum punya kamar mandi, dan untuk bisa mandi setiap pagi kau ajak aku bergi dan mandi di sungai, kau ajari juga aku mencuci bajuku sendiri. Sepulang dari sungai kau ajak dan kau ajari aku untuk mengambil tumbuhan liar dipematang sawah, kau kenalkan aku dengan tumbuhan tersebut bahwa tumbuhan tersebut bisa di makan, dan sesampainya dirumah kau ajak dan kau ajari aku memasak sayur itu, dan kita sarapan dengan menu sangat sederhana nasi, sayur, ikan asin dan sambal. Setelah itu ibu pergi bekerja.

Ibu kau didik aku dengan istighfar…………..

            Ibu saat aku malai masuk sekolah, ibu mengajari aku utuk bergaul dan bersolialisasi dengan semua, sering kau ajak aku ikut ibu mengajar. Ibu kenalkan aku dengan murid-muridnya, Saat ibu melihat muridnya salah ibu bilang istighfar. Aku juga di berikan kesempatan untuk bergaul dengan teman-temanku di sekolahku atau di kampungku. Saat ibu pulang ngajar ibu melihat aku pulang dengan membawa kayu bakar, membawa ketela, kacang atau sayur kubis hasil memulung ibu tersenyum sambil bilang istighfar. Kau ajari aku mambaca dan menulis Al qur’an kau ajari aku membaca dan menulis, kau ajak aku mengaji kau ajari dan kau ajak aku sholat berjama’ah dan jika aku bandel dan sulit untuk bisa ibu tetap baca istighfar, aku tahu ibu kecewa.Saat ibu pulang kerja dan melihat aku babak belur habis berkelahi dan ibu didatangi orang tua temaku yang aku sakiti ibu membaca istighfar aku tahu ibu marah.

Ibuku…………………

            Saat umurku 10 tahun saat aku mulai belajar. Saat aku mulai menyukai belajar, saat aku mulai mengaji, saat aku mulai menyenangi belajar hidup mandiri dan saat aku senang selalu didampingi disayangi oleh ibu, belajar bersama ibu dan saat aku mulai mengerti hidup atas bimbingan ibu. Ibu dipanggil ALLAH untuk menghadapnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa hanya menangis dalam hati, bingung, tidak terima dengan ini, aku berontak, aku berahap ini hanya mimpi aku lari, lari dan lari. Saat mobil ambulan datang membawa jenazah ibu, aku pergi dari rumah aku tidur di rumah tetangga berusaha tidur dan tidur aku tidak mau diganggu, aku tutup rapat-rapat telingaku aku tidak mau mendenganr apapun berharap ini mimpi dan esok hari aku bisa bertemu ibu lagi.

            Pagi hari setelah aku terbangaun dari tidurku, suasana kampung sepi dan lengang, nyaris tidak ada orang yang berlalu-lalang, tidak ada orang yang pergi kesawah, datang bapakku menghampiri aku mengajak aku duduk di ruang tamu tetanggaku. Bapak berkata “Ayo ke ibu… Ibuk sekarang sudah tidak ada… ibuk sekarang sudah menghadap ALLAH”. Aku menghela napas panjang sambil aku tahan kesedihan dalam hatiku kemudian aku jawab “innalillahi nggeh tah?….iya pak ayo kita ke ibu”. Dengan langkah yang melayang gemetar aku berjalan bersama bapak menuju ke rumah diiringi isak tangis warga yang melayat, aku melihat keranda warna hijau dan ibuk sudah berada di dalam keranda itu, aku pandangi keranda itu beberapa saat kemudian aku berjalan sendiri menuju ke balakang rumah, aku merenung dan menangis sendiri dalam kesedihanku. Aku ingat didikan ibu, aku ingat pelajaran ibu, aku ingat perjuangan ibu, aku ingat prinsip hidup ibu, aku ingat contoh-contoh yang diberikan ibu, aku ingat betapa kasih dan sayang ibu sangat besar padaku. Aku harus sadari dan terima, mulai sekarang ibu telah pergi utuk selamanya, aku tidak bisa melihat ibu lagi dengan mata dhohirku, aku tidak bisa lagi marasakan hangat pelukan ibu, aku tidak bisa lagi mendapatkan kasih sayang yang tulus dari ibu, namun pendidikan, pelajaran hidup, prinsip hidup, serta motivasi dari ibu tidak pernah akan hilang dari kehidupanku, ibu masih hidup dalam bathinku, dan saat itu aku mendapatkan semangat bahwa perjuangan ibu belum selesai. Dan “AKU HARUS BISA SEPERTI IBU”.

Ibu anakmu yang dulu prematur sekarang sudah besar,

Ibu anakmu yang duku engkau ajari qona’ah sekarang hidup sederhana

Ibu anakmu dulu yang engkau didik sudah menjadi pendidik,

Ibu anakmu yang dulu engkau ajak berjuang sekarang berusaha selalu berjuang,

Ibu suasana rumah kita dulu ada di kehidupan anakmu sekarang..

Ya ALLAH ampunilah dosa’dosa kami

Ya ALLAH ampunilah dosa-dosa kedua orang tua kami

Ya ALLAH sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami pada saat kecil

Ya ALLAH tempatkanlah mereka di syurgamu bersama kekasihmu

Terima kasih ibu Engkau Pahlawan lahir dan bathinku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *